Aih perahu semakin menepi. Angin semilir pembawa harapan tinggal di bawah buritan. Ombak bergulung dan hilang. Pesisir panjang membentang. Sementara nyiur tegak menantang angkasa. Kota kini berwarna jingga. Matahari yang lelah perlahan menarik selimut nya. Diam saja berjuta bahasa. terlalu indah sore dapat dilukiskan. Sepeda-sepeda dari masa lau berlalu lalang. Sementara deru mesin riuh rendah. Kehidupan masih mencoba memperlihatkan eksistensinya. Semnentara bahan bakar sudah menipis. Kepul asap pabrk teruk merusak angkasa. Dan anak-anak sibuk menutup mulutnya.
Di ujung daratan sebuah kata diucapkan " datanglah...." walau kau lelah. Mari berbagi sore yang indah. Setiap hari tidak akan sama wahai pencuri malamku. Kini saatnya, tuangkan limun yang disiapkan harapan kedalam gelas biru.
Begitulah kita. Begitulah kita akn selalu menghabiskan sore bersma. Walau tubuh jauh terpisahkan olehwaktu berjam-jam lamanya......(28 Agustus 2010)
Selasa, 19 Oktober 2010
Jika Saja
Saya berlari..menari..menyebar bahagia...yang sempat kering oleh panasnya cuaca.
Saya berlari...menari...menyebar harapan....yang sempat tenggelam oleh luapan air hujan.
Dan kini saya duduk terdiam, membiarkan imajinasi mengembara entah kemana. Mencari cahaya yang mengganggu bertahun-tahun lamanya.
Musim berganti. Danau mengering dan kembali berair. Tapi sampan tetap bersiap. Juga dayung yang setia memeluk dasarnya.
Jika saja malam segera datang, maka akau akan menari lagi. mengikuti irama jam. Mengikuti irama malam. Tanpa lelah hingga hari berganti.
Dan saatpun lelah. kuingin terlelap dibuai harapan dan berharap kau datang tepat pada waktunya.....(27 Agustus 2010)
Saya berlari...menari...menyebar harapan....yang sempat tenggelam oleh luapan air hujan.
Dan kini saya duduk terdiam, membiarkan imajinasi mengembara entah kemana. Mencari cahaya yang mengganggu bertahun-tahun lamanya.
Musim berganti. Danau mengering dan kembali berair. Tapi sampan tetap bersiap. Juga dayung yang setia memeluk dasarnya.
Jika saja malam segera datang, maka akau akan menari lagi. mengikuti irama jam. Mengikuti irama malam. Tanpa lelah hingga hari berganti.
Dan saatpun lelah. kuingin terlelap dibuai harapan dan berharap kau datang tepat pada waktunya.....(27 Agustus 2010)
Bulan
Malam ini bulan Cantik Sekali.
Lihat....dia anggun memandangi bumi
benderang....menyaingi pedar lampu di rumah menyelimuti bukit.
Ingin sekali berlari menapaki bukit...di titik tertinggi memandangi kota dengan malamnya yang berhias bulan
terima kasih untuk-Mu
Selalu saja mengingatkan banyak hal dengan keindahan.
Mengingatkan hari-hari yang patut disyukuri,
daripada menghabiskan waktu berkaca, sementara tubuh semakin renta.
Bulan cantik sekali malam ini.........(26 Agustus 2010)
Lihat....dia anggun memandangi bumi
benderang....menyaingi pedar lampu di rumah menyelimuti bukit.
Ingin sekali berlari menapaki bukit...di titik tertinggi memandangi kota dengan malamnya yang berhias bulan
terima kasih untuk-Mu
Selalu saja mengingatkan banyak hal dengan keindahan.
Mengingatkan hari-hari yang patut disyukuri,
daripada menghabiskan waktu berkaca, sementara tubuh semakin renta.
Bulan cantik sekali malam ini.........(26 Agustus 2010)
Kita
Tetaplah menjadi akal sehatku.....saat kegilaan dan kerinduan akan pasar malam mendera........gantikan semua kerlip lampu-lampunya yang mempesona dengan suaramu......dan tetaplah menjadi kita disaat roda memaksaku berada di bawah.....
Jangan pergi sejengkalpun, atau teruslah mendekat, biar kusesak nafas. Dan saat bersamu akan menjadi saat-saat bahagia.
Kalaupun kau pergi, biar kutunggu, dan biarkan jangkar terus berda didasr laut, habis berkarat. Tapi janganlah melebih satu malam, karen akerinduan akan membunuhku perlahan.
Bernyanyilah, lagu bahagia. sedih bahagia, dan bahagia lebih bahagia. Dan kita akan menjadi siluet pada saat memandang sang surya tenggelam.....(27 Agustus 2010)
Jangan pergi sejengkalpun, atau teruslah mendekat, biar kusesak nafas. Dan saat bersamu akan menjadi saat-saat bahagia.
Kalaupun kau pergi, biar kutunggu, dan biarkan jangkar terus berda didasr laut, habis berkarat. Tapi janganlah melebih satu malam, karen akerinduan akan membunuhku perlahan.
Bernyanyilah, lagu bahagia. sedih bahagia, dan bahagia lebih bahagia. Dan kita akan menjadi siluet pada saat memandang sang surya tenggelam.....(27 Agustus 2010)
Fajar
Besok...sahabat saya akan mengakhir masa sendirinya. Dengan keyakinan hati, tanpa interpensi, dan saya yakin tidak ada kaitannya dengan pencapaian materi. Kemudian dalam dunia khayal...atau mungkin kembali ke masa lalu. Atau saat di warung Bang Maung...dengan meja dan bangku panjangnya. Sambil menyantap mie ayam bakso +nasi..menu andalan saat kuliah. Beragam masalaah ia ceritakan. Ya. Masalah keluarga. Ah ingat saat itu, tidak terhitung beberapa tetes air mata jatuh, dan sementara saya hanya diam. Sesekali menyeruput mie ayam yang tidak kepalang panjangnya. Bukan berarti dari banyaknya masalah kami menjadi begitu dekat. Melainkan karena kami menempati ruang yang sama. Ruang warna biru di Gedung G 204. Tempat yang tepat untuk melarikan diri dari masalah perkuliahan. Kamipun belajar fotografi bersama. Banyak agenda yang telah terlaksana. banyak kenangan yang tercipta dalam suka.
Begitulah kami. Tidak ada kata yang tepat untk menggambarkan betapa kami dekat. Tiba-tiba saja kami dibaiat menjadi sebuah keluarga saat kami semua berteria "Motret Mesti berani....". Beberapa masih setia menjalani karunia tersebut. kami seringkali berkumpul. walau sudah bertahun lamanya kami keluar dari ruangan tersebut. Sekedar meregenarasi, tetapi tidak akan pernah membunuh kenangannya. Dan kamu adalah sejarah bagi saya....kamu tahu apa yang terjadi pada diri saya selama ini. Juga sahabat kita lainnya........
Walau kini formasi di lapangan lepas landas gantole telah berubah......yakinkah bahwa benang merah yang telah kita buat dengan susah dan bertahun lamanya tetap terlihat dengan jelas.
Seandainya saja ia ada didepan saya. Saya ingin sekali berpesan. Baik-baiklah kamu dalam perjalananmu nanti. Karena kamu tidak lagi bersama kami.
Tentang keluarga bahagia. Belajarlah dari alam. Saling menghargai. Jangan berharap melebihi apa yang kehidupan dapat berikan. Semua pasangan, saat berjanji, maka Tuhan akan berikan sepetak lahan kering. Yang akan subur oleh keringat dan airmata bahagia mu. Kemudian akan tumbuh rumput dan bunga beranekaragam. Itu, jika kamu menjaganya dengan setulus hati.
Ingat sahabat....Kita hidup tidak untuk selamanya. jadi biarkanlah mengalir saja. Pencapaian-pencapaian yang bersifat fisik, terbukti sering menjebak manusia dalam ketakutan. ketakuan akan mati. Ketakutan akan berpisah dengan dunia yang hanya sementara ini.
Kini kamu tidak akan berpura-pura lagi sebagai ibu yang mengandung anak...seperti malam pentas seni ketika pelantikan anggota baru. yang sempat membuat semua yang melihat tidak habis pikir. Dan kini kamu akan menjadi ibu yang seutuhnya buat kehidupan, seperti ibu-ibu lainnya yang telah memulai lebih dulu.
Dan saya yakin, kamu akan menjadi pasangan dan ibu yang dikehendaki Tuhan.........amien.....
saya masih di kolom koran seperti sediakala..........
Begitulah kami. Tidak ada kata yang tepat untk menggambarkan betapa kami dekat. Tiba-tiba saja kami dibaiat menjadi sebuah keluarga saat kami semua berteria "Motret Mesti berani....". Beberapa masih setia menjalani karunia tersebut. kami seringkali berkumpul. walau sudah bertahun lamanya kami keluar dari ruangan tersebut. Sekedar meregenarasi, tetapi tidak akan pernah membunuh kenangannya. Dan kamu adalah sejarah bagi saya....kamu tahu apa yang terjadi pada diri saya selama ini. Juga sahabat kita lainnya........
Walau kini formasi di lapangan lepas landas gantole telah berubah......yakinkah bahwa benang merah yang telah kita buat dengan susah dan bertahun lamanya tetap terlihat dengan jelas.
Seandainya saja ia ada didepan saya. Saya ingin sekali berpesan. Baik-baiklah kamu dalam perjalananmu nanti. Karena kamu tidak lagi bersama kami.
Tentang keluarga bahagia. Belajarlah dari alam. Saling menghargai. Jangan berharap melebihi apa yang kehidupan dapat berikan. Semua pasangan, saat berjanji, maka Tuhan akan berikan sepetak lahan kering. Yang akan subur oleh keringat dan airmata bahagia mu. Kemudian akan tumbuh rumput dan bunga beranekaragam. Itu, jika kamu menjaganya dengan setulus hati.
Ingat sahabat....Kita hidup tidak untuk selamanya. jadi biarkanlah mengalir saja. Pencapaian-pencapaian yang bersifat fisik, terbukti sering menjebak manusia dalam ketakutan. ketakuan akan mati. Ketakutan akan berpisah dengan dunia yang hanya sementara ini.
Kini kamu tidak akan berpura-pura lagi sebagai ibu yang mengandung anak...seperti malam pentas seni ketika pelantikan anggota baru. yang sempat membuat semua yang melihat tidak habis pikir. Dan kini kamu akan menjadi ibu yang seutuhnya buat kehidupan, seperti ibu-ibu lainnya yang telah memulai lebih dulu.
Dan saya yakin, kamu akan menjadi pasangan dan ibu yang dikehendaki Tuhan.........amien.....
saya masih di kolom koran seperti sediakala..........
Momentum
Angin berhembus kencang pagi ini. Sementara mendung menggelayut di sepanjang cakrawala. Saya buat pesawat terbang kertas tadi malam. Buat bekal teman angin berhembus esok harinya. Kini ditangan yang lelah. diantara ibu jari dan telunju, saya selipkan bagian bawah pesawat kertas. Kemudian saat angin berhembus saya lesatkan. Tinggi sekali, dengan keseimbangan yang sempurna terus terbang, perlahan, melewati pohon mangga, kemudian dengan anggun mendarat tidak jauh dari ladang rumput.
Penerbangan yang indah....
Kemudian sekali lagi saya pungut, kemudian dilesatkan kembali. Kali ini, pesawat terbang rendah, tidak lama setelah terbang ia menukik tajam dan menghujam kubangan.
Ya pendaratan yang kejam. Ada yang salah. saya pungut dan coba perhatikan baik-baik. Tidak ada yang salah. Semua masih berfungsi dengan sempurna.
oh ya...bicara momentum dalam hidup atau setiap kesempatan. Pada penerbangan yang kedua saya tidak menunggu momentum angin berhembus kencang. JAdilah penerbangan yang tidak tidak diinginkan.
Seberapa pentingkah momentum itu......
jawabnya ada saat pesawat terbang tinggi, melayang jauh, terbang sangat anggun , melayang dan terus melayang............(28 Juli 2010)
Penerbangan yang indah....
Kemudian sekali lagi saya pungut, kemudian dilesatkan kembali. Kali ini, pesawat terbang rendah, tidak lama setelah terbang ia menukik tajam dan menghujam kubangan.
Ya pendaratan yang kejam. Ada yang salah. saya pungut dan coba perhatikan baik-baik. Tidak ada yang salah. Semua masih berfungsi dengan sempurna.
oh ya...bicara momentum dalam hidup atau setiap kesempatan. Pada penerbangan yang kedua saya tidak menunggu momentum angin berhembus kencang. JAdilah penerbangan yang tidak tidak diinginkan.
Seberapa pentingkah momentum itu......
jawabnya ada saat pesawat terbang tinggi, melayang jauh, terbang sangat anggun , melayang dan terus melayang............(28 Juli 2010)
Bermain Hujan
Suara rintik hujan terdengar perlahan. Dan akhirnya hujan sangat deras. Jelas terlihat dari jendela. Anak-anak hujan menghujam tanah. Menciptakan kabut yang menutupi persawahan. Ingat dulu ayah selalu mengajak menikmati hujan dari saung milik kakek di ujung sawah. Membiarkan tubuh menjadi basah. Kemudian ayah mengajak adu lari. Siapa sampai duluan sampai orang-orangan sawah. Akan ditraktir mie ayam dekat terminal. 1....2...3.....dan kamipun beradu tangkas. Menyusuri setapak licin. dan membiarkan tubuh terpeleset masuk ke dalam kubangan lumpur. Kamipun tertawa bersama. Kemudian ayah selalu bercerita " Lihat....tanah ini adalah tanah yang menyusun struktur tubuh kita" lalu ayah mulaii mebaluri lumpur ke wajahnya.....Lihat!!! Serukan!!! ayo ikuti...setelah semua wajahnya tertutup lumpur ayah mulai mebaluri seluruh lumpur ke tubuhnya. Menyenangkan sekali. "Baik-buruk tanah ini harus kita jaga......banyak tanah lebih subur...banyak tanah lebih indah. Tapi buat apa kalau dia tidak menghendaki tubuh kita. .....Begitu selalu ayah mengakhiri permainan lumpur. Setelah itu kamipun kembali berpacu. Dan ayah ternyata lebih dulu memegang orang-orangan sawah. Dan untuk kesekian kalinya saya kalah." Tenang nak...ada saatnya kamu menang..nikmati permainan...sekarang biarkan ayah yang traktir kamu mie ayam....saya yakin suatu saat nanti kau akan menolak ayah traktir. Dan kamu akan selalu menjadi anak kebanggaan ayah.....tunggu saja waktunya......".
Lalu kubangunkan jiwa yang tertidur lelap perlahan."Hei Jiwa....hujan nak....mau bermain bersama ayah....? (27 Juli 2010)
Lalu kubangunkan jiwa yang tertidur lelap perlahan."Hei Jiwa....hujan nak....mau bermain bersama ayah....? (27 Juli 2010)
Langganan:
Postingan (Atom)