Jumat, 28 Mei 2010

Jas Hujan dan Telat Bangun

"Saya selalu suka hujan..." begitu ungkap teman saat bertemu di dunia maya. Pagi ini memang tidak terlihat akan turun hujan, hanya mata terus dipenuhi air, karena akibat bergadang bersama teman-teman hingga dini hari, dan harus memaksa tanpa mandi, badan langsung menyangking tas kamera untuk menuju Magelang. Begitulah mata saya mengabur. masih sekali berat, karena saya tidak punya alasan apapaun untk membuat keterlambatan ini menjadi senjata mematikan nanti sore. Terus saja berair setidaknya hingga 20 kiloan meter lebih dari semarang atau saat memasuki Ungaran baru mata saya sedikit jernih...hingga kemudian saya terpaksa harus berhenti untk mengisi bensin motor yamaha saya yang tinggal satu strip. Saat bagasi dibuka, saya menemukan hal yang tidak biasa. Jas hujan warna orange yang selam ini melindung tubuh dan kamera saat menembus hujan tidak ada pada tempatnya. Lalu otomatis mata mengamati langit pagi. Tidak biru. hanya kelabu. Damn!!!
Secepat kilat saat uang kembalian diterima dari petugas SPBU. Saya menarik gas sepeda motor dalam-dalam. meraung. Masih di Sekitar Kecamatan Jambu.....masih harus melewati Soropadan, Secang, baru kemudian Magelang......Saya takut hujan. tidak seperti biasanya. Sebuah prosedur yang tidak semestinya. Tidak membawa jas hujan di kala musim hujan.
harusnya saya berangkat dari kantor Menteri Supeno pukul 05.30...tidak 06.15.....45 menit yang mematikan. Sebuah alasan yang tepat untuk sedikit tidak mengindahkan keselamatan. Bagaimana kalo acara nya dah selesai. Hanya koran tempat saya bekerja yang tidak punya fotonya...apakah para penjaga halaman koran akan mengerti jika tahu saya terlambat bangun kaibat karokean bersama teman hingga dini hari. Hah..sama saja bunuh diri.......bukan alasan yang tepat...dan memang tidak perlu ada alasan untuk semua kecorobahn ini. Terlambat bangun dan tidak bawa jas hujan......
Kembali ke " Saya selalu suka saat hujan....". begitulah akhirnya. Saat sampai di magelang. Saya melihat teman-teman kaget. " Sudah mulai dari tadi...". dan dengan terburu-buru mengeluarkan kamera saya melihat hanya tinggal seratusan meteran lagi iring-iringan biksu menyelesaikan ritual pindapata di Jalan Pemuda.Seratus meteran yang menentukan, tanpa menyapa sahabat seperjuangan..saya biarkan shutter speed bekerja dengan efektif. Sudut luaas...sudut sempit....hah...selamat!!!! masih bisa menyelesaikan sebuah tugas akibat bangun telat.
Maisih ada satu lagi.....saya takut hujan. Setelah mengunjungi seorang sahabat di Muntilan. Sayapun pamit, dan teman yang sudah tahu bagaimana pekerjaan seorang waratwan terheran-heran saat saya pamit " maaf mas..saya harus segera kembali ke Semarang...mumpung belum hujan". ya begitulah, akhirnya sebuah tanda pamit yang tidak biasanya" wartawan kok takut hujan....."
Benar saja...saat memasuki Secang...rintik hujan mulai turun. Ah nekat saja....karena nanggung....dikit-dikit rintik hujan semakin kencang. Bulir-bulir hujan mulai menyakiti tubuh. dan Jaket berbahan polar merk Kolping tidak lagi kering meliankan basah semua....dingin airnya mulai membah perut bunci saya..masih saja nekat. tidak mau kalah oleh hujan.......dan memang hujan akhirnya.
Hanya mengutuk diri...tidak ada yang sehina saya hari ini. Harus tunduk oleh hujan. Dan memaksa meminggirkanmotor ke tepi. dan membiarkan beberapa menit terbuang dengan menunggu hujan reda di gubuk kayu sisa penjual madu.
Jangan pernah tidak membawa jas hujan di kala hujan....dan janagan telat juga bangunnya......(26 Mei 2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar